Minggu, 07 April 2019

Mahasiswi Hedonis semakin Eksotis



Oleh
Nurani Puji Islami
IG @bisiknurani


Dunia perguruan tinggi sudah tak asing lagi diperbincangkan. Tipologi mahasiswa yang berbeda-beda tetap memberikan warna tersendiri bagi setiap kelompok maupun invidual. Di dalam kampus perempuan terkenal  dengan anggun dan menawan. Sayangnya di era-milenial saat ini menimbulkan tipologi yang jauh di batas normal bahkan bisa menjadi  batas kritis. Kehidupan yang disuguhkan dengan kenikmatan dan kemudahan dalam akses apapun membuat kalangan mahasiswa terjun kedalam dunia hedon, khususnya teruntuk mahasiswi. Bagi mahasiswi, agent of change, agent of control, dan iron stock sudah tak berlaku. Melihat secercah harapan mahasiswi akan kembali mengambil perannya sebagai agent of change , dan sebagainya itu di tengah-tengah harapan mahasiswi saat ini. Mayoritas dari mereka tunduk pada kenikmatan sementara yang memanjakan syahwat, mengabaikan dan melupakan kerusakan disekitar karena mabuk ambisi,, tugas, dan IPK. Tidak dapat di pungkiri jika apatis dan hedonis mahasiswi menjadi keluhan bagi para aktivis mahasiswa yang terasing keberadaannya dalam dekade terakhir ini. Perkembangan zaman di era globalisasi saat ini mengakibatkan gaya hidup hedonism di kalangan mahasiswa. Globalisasi menjadi pengaruh perilaku gaya hidup modern dimana pemenuhan kebutuhan mahasiswa  tampak condong ke hedonisme. Dan hedonism di kalangan kampus semakin eksotis. Gaya hidup tersebut menjadikan perubahan social termasuk apatis. Kepribadian dan setiap perempuan memiliki gaya hidup yang berbeda. Hedonisme pun memiliki faktor penyebab, faktor orang tua menjadi salah satu penunjang mahasiswi dalam melakukan kesehariannya dapat terkontrol. Terkadang orang tua hanya sekedar memberi kebutuhan sehari-hari tanpa memikirkan kebutuhan rohaninya. Bacaan-bacaan yang berbau intertaiment berhasil di kuasai tanpa berfikir bacaan hedonism. Mahasiswi produktif sudah berhasil dikalahkan melalui perilaku konsumerisme. Perkembangan kehidupan yang mulai mengarah kemajuan atau cenderung modern semakin mudah di jadikan alat untuk hedonism yaitu dengan bermunculan berbagai tempat hedon dengan berpola tinggi. Perlu diketahui dan dapat terlihat apa yang akan terjadi jika virus ini dibiarkan terus menerus. Maka dari itu dapat di antisipasi pengaruh hedonism bagi mahasiswi dengan mengadakan sharing memberi keterbukaan antara dampak positif maupun negatifnya untuk kehidupan. Tahapan hidup yang dilakukan dalam keseharian perlu di pertimbangkan, tidak selamanya apa yang kita dapat hari itu bisa tercapai juga saat nanti. Biasanya manusia cenderung lebih membeli barang karena keinginan, bukan karena suatu kebutuhan. Hal seperti itu bisa dikatakan sebagai perilaku hedonism yang tidak hanya membeli kebutuhan utama saja. Kurangnya pondasi pada setiap individu sehingga wajar saja jika hedonism lebih menojol akhir-akhir ini. Jika semua virus hedonism tetap di jalankan maka seseorang tidak selamanya merasakan kepuasan, tetapi tertekan dengan jalan hidup saat itu yang ia pilih. Sebelum menjadi pencandu hedonism alangkah baiknya melihat lebih dalam lagi apa tujuan yang didapat dari itu semua. Kebahagiaan setiap individu memang beda, tetapi untuk seorang mahasiswa bukan waktunya untuk bersenang-senang mementingkan keinginan diri sendiri, tetapi juga perlu survive menumbuhkan rasa yang peduli pada sesame. Mahasiswa seharusnya mampu melakukan penolakan terhadap hedonism dengan dimulai dari individu menjadikan langkah-langkah pertama yang bagus. Semya berawal dari setiap individu, bagaimana bisa meyakinkan orang lain atau masyarakat jika menjadi pribadi sendiri ada rasa dalam hedonism. Menjadi mahasiswa harus memiliki tujuan dalam setiap pilihan, dan menjadi mahasiswi yang hedonism bukanlah suatu pilihan melainkan adalah jebakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sekolah Menengah ke Atas

Lanjutan  " Sekolah Menengah Pertama" Oleh Nurani Puji Islami      Hari itu tepat hari senin, hari itu yang akan mem...