Oleh
Nurani
Puji Islami
IG @bisiknurani
Dunia perguruan tinggi
sudah tak asing lagi diperbincangkan. Tipologi mahasiswa yang berbeda-beda
tetap memberikan warna tersendiri bagi setiap kelompok maupun invidual. Di
dalam kampus perempuan terkenal dengan
anggun dan menawan. Sayangnya di era-milenial saat ini menimbulkan tipologi
yang jauh di batas normal bahkan bisa menjadi batas kritis. Kehidupan yang disuguhkan dengan
kenikmatan dan kemudahan dalam akses apapun membuat kalangan mahasiswa terjun
kedalam dunia hedon, khususnya teruntuk mahasiswi. Bagi mahasiswi, agent of change, agent of control, dan iron
stock sudah tak berlaku. Melihat secercah harapan mahasiswi akan kembali
mengambil perannya sebagai agent of
change , dan sebagainya itu di tengah-tengah harapan mahasiswi saat ini.
Mayoritas dari mereka tunduk pada kenikmatan sementara yang memanjakan syahwat,
mengabaikan dan melupakan kerusakan disekitar karena mabuk ambisi,, tugas, dan
IPK. Tidak dapat di pungkiri jika apatis dan hedonis mahasiswi menjadi keluhan
bagi para aktivis mahasiswa yang terasing keberadaannya dalam dekade terakhir
ini. Perkembangan zaman di era globalisasi saat ini mengakibatkan gaya hidup
hedonism di kalangan mahasiswa. Globalisasi menjadi pengaruh perilaku gaya
hidup modern dimana pemenuhan kebutuhan mahasiswa tampak condong ke hedonisme. Dan hedonism di
kalangan kampus semakin eksotis. Gaya hidup tersebut menjadikan perubahan
social termasuk apatis. Kepribadian dan setiap perempuan memiliki gaya hidup
yang berbeda. Hedonisme pun memiliki faktor penyebab, faktor orang tua menjadi
salah satu penunjang mahasiswi dalam melakukan kesehariannya dapat terkontrol.
Terkadang orang tua hanya sekedar memberi kebutuhan sehari-hari tanpa
memikirkan kebutuhan rohaninya. Bacaan-bacaan yang berbau intertaiment berhasil
di kuasai tanpa berfikir bacaan hedonism. Mahasiswi produktif sudah berhasil
dikalahkan melalui perilaku konsumerisme. Perkembangan kehidupan yang mulai
mengarah kemajuan atau cenderung modern semakin mudah di jadikan alat untuk
hedonism yaitu dengan bermunculan berbagai tempat hedon dengan berpola tinggi.
Perlu diketahui dan dapat terlihat apa yang akan terjadi jika virus ini
dibiarkan terus menerus. Maka dari itu dapat di antisipasi pengaruh hedonism
bagi mahasiswi dengan mengadakan sharing memberi keterbukaan antara dampak
positif maupun negatifnya untuk kehidupan. Tahapan hidup yang dilakukan dalam
keseharian perlu di pertimbangkan, tidak selamanya apa yang kita dapat hari itu
bisa tercapai juga saat nanti. Biasanya manusia cenderung lebih membeli barang
karena keinginan, bukan karena suatu kebutuhan. Hal seperti itu bisa dikatakan
sebagai perilaku hedonism yang tidak hanya membeli kebutuhan utama saja.
Kurangnya pondasi pada setiap individu sehingga wajar saja jika hedonism lebih
menojol akhir-akhir ini. Jika semua virus hedonism tetap di jalankan maka
seseorang tidak selamanya merasakan kepuasan, tetapi tertekan dengan jalan
hidup saat itu yang ia pilih. Sebelum menjadi pencandu hedonism alangkah
baiknya melihat lebih dalam lagi apa tujuan yang didapat dari itu semua.
Kebahagiaan setiap individu memang beda, tetapi untuk seorang mahasiswa bukan
waktunya untuk bersenang-senang mementingkan keinginan diri sendiri, tetapi
juga perlu survive menumbuhkan rasa yang peduli pada sesame. Mahasiswa
seharusnya mampu melakukan penolakan terhadap hedonism dengan dimulai dari
individu menjadikan langkah-langkah pertama yang bagus. Semya berawal dari
setiap individu, bagaimana bisa meyakinkan orang lain atau masyarakat jika
menjadi pribadi sendiri ada rasa dalam hedonism. Menjadi mahasiswa harus
memiliki tujuan dalam setiap pilihan, dan menjadi mahasiswi yang hedonism bukanlah
suatu pilihan melainkan adalah jebakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar