Oleh
Nurani Puji Islami
Kehidupan selalu berlaku adil, entah dari persepsi mana ku katakan demikian. Banyak hal dalam hidup yang membuat kita menjadi lebih kuat, lemah, bahkan menyerah dan ingin mundur. Tapi satu hal yang membuat hidup menjadi lebih bermakna dan lebih hidup, yaitu keluarga. Ketika semua orang menutup telinganya hanya untuk mendengarkan luapan isi hati yang sudah meledak, tetapi keluarga sedia membuka mata dan telinganya tanpa batasan waktu.
Masa kecil adalah masa emas untuk mendidik anak menjadi seseorang yang terdidik. Apabila masa kecil penuh dengan kehangatan dan keharmonisan akan membuat anak menjadi lebih positif dan nyaman untuk mengenyam pendidikannya. Tawa kecil sana sini dengan kenakalan anak sewajarnya. Ayahku selalu mengatakan bahwa Anak kecil jika tidak nakal tidak akan pintar dan aktif. Anak kecil biasa ku katakan seperti lembaran kosong putih yang akan di isi oleh pena untuk mengisi lembaran-lembaran putih yang kosong itu, dan yang akan mengisi lembaran putih tersebut adalah orang-orang yang berada disekitarnya.
Jika kalian bertanya apakah masa kecilku penuh dengan kehangatan, kebahagiaan, dan keharmonisan tentu aku akan manjawab, iya. Masa kecilku penuh dengan warna. Aku memiliki 2 sayap yang mampu membawaku terbang kemanapun aku ingin pergi, membawaku bercengkerama dengan alam, dunia luar, dan wawasan dunia yang memang tak banyak ku ketahui. Jika kalian ingin bertanya seperti apa 2 sayap yang mampu membawaku terbang melintasi kehidupan yang asyik untuk di jelajahi, maka aku akan menjawab... 2 sayap itu adalah, Ayah dan Ibuku.
Kini akan ku ceritakan bagaimana aku di besarkan dan mendapatkan madrasah pertama di dalam surgaku (Rumah), ku katakan surga karena ada pribahasa yang mengatakan Rumahku adalah Sugaku. Ayahku adalah seorang abdi negara yaitu salah satu anggota TNI (Tentara Nasional Indonesia). Seperti yang kita ketahui bahwa tentara dikenal dengan kedisiplinannya, seperti itulah beliau mendidik anak-anaknya. Sedari usiaku masih 6 tahun, bahkan saat itu aku masih sekolah di TK (Taman Kanak-Kanak) Ayahku selalu membangunkan ku subuh untuk melaksanakan sholat subuh, waktu itu. Itu di ajarkan beliau supaya aku tau untuk melakukan kewajiban sebagai umat, walaupun kalian juga pasti tau bagaimana sholatnya anak kecil ketika usia 6 tahun. Usai sholat dilanjut dengan mandi dan sarapan untuk berangkat sekolah. Pada usia yang balita itu, Ayah tidak pernah menuntutku untuk membantu Ibu, namun percayalah didikan itu membuatku sadar untuk membantu ibu tanpa di suruh terlebih dahulu.
Perlu kalian ketahui juga bahwa beliau selalu menanamkan jiwa nasionalisme kepada anak-anaknya. sebagai contoh, Ayah tau bahwa aku suka menyanyi sejak kecil jadi Ayahku selalu membawa CD musik yang berisi lagu nasional untuk anak-anak, dari situlah aku bisa menghafal beberapa lagu-lagu nasional. Selain itu Ayahku juga sering menceritakan beberapa sejarah di Indonesia. Contoh kecilnya, karena Ayahku dinas di Surabaya, Ayahku menceritakan sejarah mengapa Kota Surabaya di sebut kota pahlawan.
Ayahku menceritakan heroisme masyarakat Surabaya tergambar pada pertempuran 10 November 2019. Arek-arek suroboyo adalah sebutan bagi masyarakat Surabaya yang berbekal bambu runcing untuk melawan sekutu hingga banyak masyarakat yang gugur saat pertempuran itu. Tokoh pertempuran yang sangat kokoh adalah Bung Tomo, dengan orasinya yang menggebu-gebu dan semangat yang mampu membakar api perjuangan dari arek-arek suroboyo. 5 tahun kemudian kesan bung karno terhadap peristiwa itu akhirnya memutuskan untuk membuat tugu kota pahlawan yang kemudian menetapkan tanggal 10 November adalah hari "Hari Pahlawan". Begitulah salah satu contoh sejarah yang selalu Ayah ceritakan padaku, masih banyak lagi sejarah-sejarah singkat yang tau dari pengetahuan Ayah. Banyak yang bisa ku pelajari darinya, semangat dan kerja kerasnya selalu membangkitkan semangatku untuk terus mengejar pendidikan sampai saat ini.
Next, sayapku yang satunya lagi adalah Ibuku. Iya, berbeda dengan Ayah yang sangat keras dan didisiplin mendidik anaknya, ibu adalah seseorang yang sangat lemah lembut. Satu ilmu yang bisa ku terapkan ketika aku melaksanakan kegiatan pengabdian di sebuat desa dari organisasi yang ku ikuti saat ini yaitu Tidak ada anak manja, anak yang di manjakan ada. Artinya, tidak semua permintaan anak bisa kita penuhi, kita bisa memberikan permintaannya ketika sang anak mampu memberikan satu prestasi maupun mampu melakukan sesuatu yang baik, misalnya bisa menghafal perkalian 1-10. Ibuku juga banyak memberikan ilmu memasak dan pekerjaan rumah tangga, dimaklumi mungkin karena aku adalah anak perempuan. Memasak adalah hobi beliau, secara otomatis akupun menyukainya, mungkin karena aku selalu berkecipung di dunia masakan bersamanya. Semenjak SMP aku sudah bisa masak sendiri dan membantu pekerjaan beliau di rumah. Yap.. tepat sekali, aku lebih banyak bergaul dengan Ibu, hal ini dikarenakan sang Ayah yang dinas di luar kota membuat Anak, Ibu dan Ayah ini jarang bertemu. Ayahku pulang seminggu 1 kali, misalnya hari senin-jum'at beliau di kantor, selanjutnya hari sabtu dan minggu beliau bisa family time. Rutinitas itu berlaku semenjak aku masih dalam kandungan hingga aku menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri.
Keluarga memiliki arti tersendiri dalam hidupku, kebahagiaan dan ketulusannya tidak pernah bisa digantikan dengan uang. Kami adalah keluarga yang sangat sederhana, tidak pernah berlibur ke luar kota dengan biaya yang begitu mahal, apalagi berlibur ke negeri orang, haha bermimpi rasanya. Bagi kami kebahagiaan itu sangat sederhana, begitupun dengan kebahagiaan. Kami memilih berlibur di rumah, dengan pembagian tugas rumah, sarapan bersama, kemudian di lanjut dengan karaoke keluarga atau sekedar berpiknik di depan rumah dengan bakar-bakar ikan dan sebagainya. Iya, itulah romantisme keluarga kami. Satu waktu begitu berharga bagi kami, saling mengerti dan mendukung pilihan yang terbaik dari yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar