Oleh
Nurani Puji Islami (@bisiknurani)
“Mahasiswa?
Kata apa yang muncul ketika ada yang mengatakan mahasiswa?” Tanya dalam
benakku. Mahasiswa
yang terdiri dari gabungan 2 kata, maha dan siswa. Maha yang berarti besar dan
Siswa yang berarti pelajar, atau seseorang yang sedang belajar di suatu
instansi. Mahasiswa dan tanggung jawab social dengan tri dharma perguruan
tinggi, pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
Kampus
yang menjadi media untuk menggalih sedalam-dalamnya ilmu. Kampus yang menjadi
sarana utama mahasiswa untuk mengembangkan kemandirian dan karakter. Dan kampus
pula yang menuntut mahasiswa untuk menjadi pribadi terpelajar. Kampus adalah
benda mati yang di hidupkan oleh beberapa oknum yang katanya telah pandai dalam
mengatur segala urusan dan birokrasi kampus.
Jika
oknum yang terdapat di dalam kampus pandai dan benar adanya, lantas mengapa
sampai saat ini masih ada yang menjadikan kampus sebagai masalahnya? Ada apa dengan
pendidikan yang tidak merata dan berlaku adil. Adil bukan berarti sama rata,
adil adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya. Tuntutan kampus yang
mendoktrin mahasiswa untuk menjadi seseorang yang terpelajar, pun setuju dengan
tuntutan itu. Namun apakah oknum tersebut mampu memahami keadaan mahasiswa?
Tuntutan tanpa dukungan yang menunjang keinginan.Uang
Kuliah Tunggal yang biasa di sebut dengan biaya SPP semakin mencekam, seakan
akan membunuh harapan bukan dengan kekerasan. Bagaimana penempatan dan
keputusan yang di ambil sehingga tidak sesuai dengan harapan. Pada realitanya,
pengambilan keputusan yang terkait dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sangat jauh
dengan data yang telah di berikan. Pukulan UKT tersebut yang seolah mematahkan
harapan untuk mengubah kehidupan menjadi jauh lebih baik. Adakah penjelasan
terkait pembunuhan tanpa kekerasan ini? Ya, mereka hanya diam dan selalu
mengubah topic pembicaran. Bisu! Tuli! Dan Buta! Sejatinya mereka sempurna
dalam aspek fisik, dan cacat dalam pikaran dan fungsi dari fisik tersebut. Ada
apa dengan birokrasi kampus saat ini? Jika seseorang ingin mengubah hidup,
namun pendidikan yang masih menjadi permasalahan terbesar dalam Negara ini.
Beasiswa yang tidak sesuai dengan penempatannya. Permainan oknum dalam yang
kian indah untuk di permainkan. Jikapun
tulisan ini sampai kepada pejabat kotor yang menduduki singgasana emas itu, pun
sangat bersyukur dengan hal itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar