Rotasi bumi rasanya terhenti, aliran darah sekujur tubuh seolah berhenti menyaksikan perpisahan 2 insani. Kini matahari, bintang, dan apapun yang terlihat indah di mata seolah menakutkan untuk di tatap kembali. Keindahan itu tak terlihat lagi di mata seorang perempuan yang sedang sendirian meratapi nasibnya itu. Kini ia hanya bisa berdiam diri seolah menjadi bisu, buta, tuli, bahkan lumpuh. Tak tau apa yang di rasakan dalam benaknya, akankah duri itu telah melukai banyak perasaanya. Namun duri seperti apa yang melukainya? Iya, aku tak mengetahu duri kualitas apa. Duri yang sempat dia perjuangkan untuk hidupnya, apakah dia salah melangkah? Jangan tanyakan itu padaku, karena akupun tak tau soal itu.
Dia tuli dan tak mendengar apapun soal duri itu, yang dia tau saat ini hanyalah bahwa dia sangat mencintainya. Dia tak peduli jika duri itu akan melukainya lebih banyak lagi, yang pasti ketulusannya tak mampu di bayar dengan materi yang tak ada guna baginya. Saat ini dia menjadi pikun, monoton dalam menjalani hidupnya. Dia kehilangan seseorang yang begitu ia perjuangkan untuk menjelajahi bumi yang indah ini. Dia mengatakan Beruntunglah kalian yang memiliki cinta dengan restu yang pasti, artinya bahwa perjalanan cintanya tak seindah dengan serial-serial drama yang tak memiliki restu kemudian pasti bersatu di kemudian hari. Dia dan duri itu memilih berhenti menjalajahi, karena dia tak ingin duri dan keluarganya menjadi terpecah belah hanya karenanya. Perempuan ini selalu mengalah dalam masalah hingga akhirnya dia menjadi kalah dalam permasalahan cintanya sendiri, iya dia kalah dalam artian dia harus melepaskan apa yang dia punya sebagai satu-satu penyemangat untuknya.
Perempuan itu memilih untuk mengurung diri dan menutup diri untuk mencurahkan gejolak hatinya. Dia menjadi pendiam, padahal dia adalah orang yang sangat aktif bahkan hiperaktif ketika dia bersosialisasi dengan orang baru maupun lama. Tapi katanya, dunia seperti tak bergerak dan berputar. Sepertinya ia sedang menunggu kapan dunianya kembali bergerak dan berputar.
Belajar untuk menjadi dewasa sebelum waktunya adalah hal tersulit. Iya, menjadi lebih memahami kondisi sekitar, mengerti satu salam lain dengan mengesampingkan ego. Menjadi kuat di kalangan orang-orang lemah yang sangat terpaksa di lakukannya. Tak yakin jika semua orang akan mengetahui apa yang di rasakan perempuan itu. Itu yang ku lihat darinya. Yang ku ingat dari perkataannya adalah Mengeluh tak apa, menyerah itu tak boleh. Dia mengatakan demikian. Ku sangat melihat semangatnya untuk bertarung dengan kehidupan. Namun tak lagi, karena yang ku tau salah satu semangat yang di dapat darinya adalah duri itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar