Oleh
Nurani Puji Islami
Malam yang begitu sunyi, tak satu pun suara yang bisa ku dengar malam ini. Semakin malam, semakin senyap, dan semakin lenyap. Bertambahnya hari membuat jarak dan hubungan ini semakin jauh. Entah berapa hari sudah tak bertegur sapa. Percayalah, hari terasa sangat panjang ketika hari ini aku dan kau begitu jauh. Setiap hari, setelah perpisahan itu aku membawa buku kecil untuk memberi tanda apabila kau tak menghubungiku. Saat ini aku merasa bahwa kau memang begitu jauh dariku.
Kisah semacam apa yang terjadi kali ini. Tak seindah bacaan buku novel romansa dan serial drama ataupun sinetron yang pernah ku lihat.
Setiap saat, setiap kali berusaha untuk mengalihkan pikiran ini tentangmu, bayangmu semakin mengikuti kemanapun langkah dan pikiranku pergi. Aku tak bebas kali ini, semakin jauh kau dariku, semakin dekat aku memikirkanmu. Inikah takdir yang Tuhan tentukan? Apakah ini baik untukku? Apakah rencana-Nya setelah perpisahan ini. Dan aku ingin bertanya, apakah rindu sesakit ini?
Mengapa aku terlihat bodoh untuk menunggunya, namun aku hobi menunggunya, walau aku tau tanpa kepastian aku menunggu. Jiwa apa yang menyelimuti hati ini. Apakah kali ini aku terlihat seperti budak cinta? Namun percayalah, aku tak berambisi untuk memilikinya. Hanya saja terlalu munafik jika aku mengatakan aku tidak mencintainya.
Teruntuk kamu yang sedang merasa, dan membaca tulisan ini. Aku tak tau apa yang ada di pikiranmu. Aku pun tak tau apakah kau merasakan hal sama denganku atau tidak. Iya, tulisan ini untukmu, untukmu sayangku. Kisah kita terlalu miris untuk ku paparkan disini. Jika kau mulai melupakanku, dan sedikit melupakan aku, apa kabar denganku yang setiap hari selalu berpikir tentangmu. Jikalau kau telah berhasil menjauhkan ku dari pikiranmu, maka ajarkan aku untuk itu. Aku tak memiliki bakat sepertimu yang mudah menyembunyikan segala perasaanmu. Iya, aku pun tak bisa menuangkan ke dunia bahwa aku merindukanmu. Aku harap dengan tulisan aku dapat meredakan rinduku padamu.
Aku pernah berjuang sendiri untukmu, tanpa rasa kasih dan sayang untukku. Aku pernah menahan pedih ketika kau menceritakan wanita lain kepadaku. Aku pernah berjuang, lelah, hingga aku berjuang lagi untukmu. Jika kau tanya bagaimana perasaanku waktu itu, sakit tentu saja sangat sakit.
Dan kau tau, bagaimana bahagianya aku saat itu ketika kau kembali padaku dengan rasa sayangmu padaku. Iya, tentu saja aku sangat bahagia, bodoh sekali jika kau masih menanyakan seberapa bahagia aku saat itu. Dan saat ini aku hanya ingin menegaskan bahwa aku masih disini, masih dengan perasaan yang utuh terhadapmu, membasuh luka dengan dunia organisasiku, membalut luka yang terkadang dengan air mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar