Selasa, 10 September 2019

K A M U

Oleh
Nurani Puji Islami

     Malam yang begitu sunyi, tak satu pun suara yang bisa ku dengar malam ini. Semakin malam, semakin senyap, dan semakin lenyap. Bertambahnya hari membuat jarak dan hubungan ini semakin jauh. Entah berapa hari sudah tak bertegur sapa. Percayalah, hari terasa sangat panjang ketika hari ini aku dan kau begitu jauh. Setiap hari, setelah perpisahan itu aku membawa buku kecil untuk memberi tanda apabila kau tak menghubungiku. Saat ini aku merasa bahwa kau memang begitu jauh dariku.
Kisah semacam apa yang terjadi kali ini. Tak seindah bacaan buku novel romansa dan serial drama ataupun sinetron yang pernah ku lihat. 
     Setiap saat, setiap kali berusaha untuk mengalihkan pikiran ini tentangmu, bayangmu semakin mengikuti kemanapun langkah dan pikiranku pergi. Aku tak bebas kali ini, semakin jauh kau dariku, semakin dekat aku memikirkanmu. Inikah takdir yang Tuhan tentukan? Apakah ini baik untukku? Apakah rencana-Nya setelah perpisahan ini. Dan aku ingin bertanya, apakah rindu sesakit ini? 
Mengapa aku terlihat bodoh untuk menunggunya, namun aku hobi menunggunya, walau aku tau tanpa kepastian aku menunggu. Jiwa apa yang menyelimuti hati ini. Apakah kali ini aku terlihat seperti budak cinta? Namun percayalah, aku tak berambisi untuk memilikinya. Hanya saja terlalu munafik jika aku mengatakan aku tidak mencintainya.
     Teruntuk kamu yang sedang merasa, dan membaca tulisan ini. Aku tak tau apa yang ada di pikiranmu. Aku pun tak tau apakah kau merasakan hal sama denganku atau tidak. Iya, tulisan ini untukmu, untukmu sayangku. Kisah kita terlalu miris untuk ku paparkan disini. Jika kau mulai melupakanku, dan sedikit melupakan aku, apa kabar denganku yang setiap hari selalu berpikir tentangmu. Jikalau kau telah berhasil menjauhkan ku dari pikiranmu, maka ajarkan aku untuk itu. Aku tak memiliki bakat sepertimu yang mudah menyembunyikan segala perasaanmu. Iya, aku pun tak bisa menuangkan ke dunia bahwa aku merindukanmu. Aku harap dengan tulisan aku dapat meredakan rinduku padamu.
      Aku pernah berjuang sendiri untukmu, tanpa rasa kasih dan sayang untukku. Aku pernah menahan pedih ketika kau menceritakan wanita lain kepadaku. Aku pernah berjuang, lelah, hingga aku berjuang lagi untukmu. Jika kau tanya bagaimana perasaanku waktu itu, sakit tentu saja sangat sakit. 
     Dan kau tau, bagaimana bahagianya aku saat itu ketika kau kembali padaku dengan rasa sayangmu padaku. Iya, tentu saja aku sangat bahagia, bodoh sekali jika kau masih menanyakan seberapa bahagia aku saat itu. Dan saat ini aku hanya ingin menegaskan bahwa aku masih disini, masih dengan perasaan yang utuh terhadapmu, membasuh luka dengan dunia organisasiku, membalut luka yang terkadang dengan air mata.

Minggu, 08 September 2019

Sekolah Menengah Pertama

Lanjutan  dari "Keluarga Adalah Kebahagiaan"




Oleh
Nurani Puji Islami


          Masa remaja adalah masa-masa dimana kita mulai bermain dengan perasaan, biasa di katakan ABG (Anak Baru Gede) masa yang mudah kebawa perasaan. Masa remaja  yaitu masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Remaja awal biasanya sekitar usia 10 - 14 tahun. Masa remaja akhir 15 - 20 tahun. Pada masa remaja biasanya sangat sulit menerima masukan dari orang-orang di sekitarnya, karena pada dasarnya di masa ini tidak suka di gurui.
          Sekolah menengah pertama yang biasa disingkat dengan SMP. Iya, kali ini aku akan bercerita masa SMP ku, masa remaja awalku. Usai keluar dari MINU aku diberikan 2 pilihan oleh kedua orangtua ku. Pilihan  yang pertama adalah Belajar agama sekaligus sekolah di pondok pesantren, pilihan kedua adalah Sekolah di SMP Negeri. Jika di beri 2 pilihan, kalian tau apa yang ada di pikiranku dan pilihan manakah yang akan aku pilih?
           Tentu saja aku memilih sekolah di SMP Negeri. Maaf , bukannya tidak ingin belajar di pondok pesantren, sekolah di MINU bagiku serasa berada di kehidupan pesantren. Bagaimana tidak? Belajar menghafal hadist yang berada di buku Al-Qur'an dan Hadist waktu itu. Menghafal ilmu Nahwu, belajar Sejarah Kebudayaan Islam dan Aswaja. Belajar Fiqih dan Aqidah, selain itu setiap hari selalu di adakan pengecekan kuku, apabila kuku terlihat kotor dan panjang, penggaris kayu panjang siap untuk hinggap di jari-jari. Setiap jam 12.00 selalu melakukan sholat dhuhur berjama'ah, pulang sekolah di lanjutkan dengan mengaji. Kegiatan itu rutin sejak kelas 3-6 MI. Jujur saja, pada saat itu yang mengarahkan ku untuk sekolah di MINU adalah orangtua ku, dan itu paksaan sejak aku lulus dari Taman Kanak-Kanak (TK). Sempat memiliki perasaan iri hati kepada teman-teman sekitar rumah, karena jujur saja jam sekolahku dengan jam sekolah teman-temanku di rumah sangat jauh berbeda. Mereka pulang sekolah jam 12.00, aku? benar saja, aku pulang sekolah waktu itu jam 15.00. Pulang sekolah dilanjut dengan sekolah agama yang biasa di katakan sekolah diniah, dan itu sampai jam 17.00, usai sekolah diniah aku belajar mengaji kepada Ayah dan Ibu, setelahnya belajar untuk persiapan sekolah esok, kalau sudah terasa capek aku di perbolehkan menonton tv dan tidur. Eh jangan salah, masa MINU dan SMP tidak mengenal dunia gadget hehe. Ilmu pengetahuan banyak ku dapatkan dari buku-buku yang ayah beli, mendengarkan cerita Ayah dan Ibu, CD Musik dan dongeng dan berita di televisi nasional waktu itu.
          Akhirnya, tiba saatnya aku berada di lingkungan sekolah Negeri. Benar, tidak ada hafalan hadist, al-qur'an, mengaji, dsb. Di MINU dulu aku sering mengikuti latihan Qiro'ah, sering di ikutkan lomba juga, padahal aku merasa bahwa suaraku tidak bagus-bagus amat. Semenjak masuk di sekolah negeri, Qiro'ah ku tidak terasah. Qiro'ahku di gantikan dengan dunia musik dan menulis. Iya, aku menjadi vokalis di salah satu band yang ku bentuk sendiri waktu itu dan memiliki pelatih untuk mengasah bakat-bakat kami, kami mengikuti festival band dan di undang untuk mengisi acara-acara sekolah juga pernikahan. Aku juga memiliki kelompok menulis cerpen bersama 5 orang temanku waktu itu. Kita sering bertukar cerita setiap usai menulis, membaca dan mengoreksi tulisan satu sama lain. Aku juga suka berpuisi, kalau berpuisi sih sudah sejak TK sering di ikutkan lomba, tapi ya gitu jarang dapat juara, dapat juara paling tidak juara 3 atau 2 aja. 
          Satu lagi yang special di dunia SMP, "Menari" yapppp aku adalah penari waktu itu, tarian tradisional dan modern waktu itu aku sempat mengikutinya. Aku juga sering di undang untuk mengisi di acara-acara formal maupun non-formal. Bahkan aku pernah mengikuti lomba tari tingkat kabupaten waktu itu, Alhamdulillah kami mendapat juara 1 waktu itu. Aku benar-benar menikmati masa SMP, memiliki teman-teman yang cakap dan guru-guru yang sangat peduli dengan siswa-siswinya. 
          Ada satu lagi yang mewarnai dunia remaja awalku waktu itu. Tak perlu ku beri tahu rasa Suka terhadap lawan jenis itu seperti apa. Tentu saja itu sangat menyenangkan dan memberi semangat tersendiri untuk melakukan aktivitas waktu itu. Iya, aku mengagumi salah satu dari mereka, teman sekelasku. Pria itu pendiam, pintar, dan cerdas. Selalu menjadi yang pertama di kelas, bahkan aku tak mampu mengejar peringkat di kelasku waktu itu. Jika dia berada di posisi pertama, aku selalu menjadi di posisi yang kedua atau ketiga dibawahnya. Aku mengaguminya juga karena dia sangat manis ketika tersenyum, namun aku selalu diam saja. Aku menceritakan kepada Ibuku waktu itu, kata ibu itu adalah cinta monyet dan aku diharuskan untuk tetap fokus dengan sekolahku. Akhirnya aku mengabaikan rasa ini, sampai akhirnya.... dia juga menyukaiku. 
     Kami sepakat untuk menjadi teman dekat waktu itu, namun tidak bertahan lama. Kami memutuskan untuk sama-sama fokus di dunia pendidikan. Faktanya, aku tersingkirkan oleh wanita lain. Iya, dia bersama temanku, dekat sangat dekat bahkan terlihat di mataku sendiri. Jangan tanya bagaimana perasaanku waktu itu, sakit? tentu saja, itu pasti. Namun aku mencoba untuk mengabaikannya, dan tetap menjadi teman baik, karena aku sadar 3 tahun berturut-turut aku selalu sekelas dengannya, padahal kelas itu sudah di acak setiap tahun, tapi takdir selalu mempertemukan aku dengannya.
          Yap, itulah kisah Sekolah Menengah Pertamaku. Semoga ada pelajaran yang bisa kalian petik dari kisah ini. Ketahuilah! sekolah di mana saja sebenarnya sama. Semua tergantung dari niat dan pilihan. Jangan mundur sebelum berperang, karena itu tidak pernah menemukan siapa kamu sebenarnya. Sekolah di MINU mengajarkan aku untuk berhati-hati ketika terjun di dunia SMP ini dunia yang mudah di masuki oleh hal-hal buruk dan pergaulan bebas. Jangan salah juga, banyak pergaulan bebas di sekitarku, namun kembali kepada diri masing-masing, menjadi orang berpendidikan belum tentu mereka sudah benar-benar terdidik, karena didikan itu lahir dari upaya Ayah dan Bunda kepada anak-anaknya. 
          Mantapkan hati terhadap pilihan, Berusaha dan jangan lupa berdo'a :)


Rabu, 04 September 2019

Kandas, Tuntas

     Rotasi bumi rasanya terhenti, aliran darah sekujur tubuh seolah berhenti menyaksikan perpisahan 2 insani. Kini matahari, bintang, dan apapun yang terlihat indah di mata seolah menakutkan untuk di tatap kembali. Keindahan itu tak terlihat lagi di mata seorang perempuan yang sedang sendirian meratapi nasibnya itu. Kini ia hanya bisa berdiam diri seolah menjadi bisu, buta, tuli, bahkan lumpuh. Tak tau apa yang di rasakan dalam benaknya, akankah duri itu telah melukai banyak perasaanya. Namun duri seperti apa yang melukainya? Iya, aku tak mengetahu duri kualitas apa. Duri yang sempat dia perjuangkan untuk hidupnya, apakah dia salah melangkah? Jangan tanyakan itu padaku, karena akupun tak tau soal itu. 
     Dia tuli dan tak mendengar apapun soal duri itu, yang dia tau saat ini hanyalah bahwa dia sangat mencintainya. Dia tak peduli jika duri itu akan melukainya lebih banyak lagi, yang pasti ketulusannya tak mampu di bayar dengan materi yang tak ada guna baginya. Saat ini dia menjadi pikun, monoton dalam menjalani hidupnya. Dia kehilangan seseorang yang begitu ia perjuangkan untuk menjelajahi bumi yang indah ini. Dia mengatakan Beruntunglah kalian yang memiliki cinta dengan restu yang pasti, artinya bahwa perjalanan cintanya tak seindah dengan serial-serial drama yang tak memiliki restu kemudian pasti bersatu di kemudian hari. Dia dan duri itu memilih berhenti menjalajahi, karena dia tak ingin duri dan keluarganya menjadi terpecah belah hanya karenanya. Perempuan ini selalu mengalah dalam masalah hingga akhirnya dia menjadi kalah dalam permasalahan cintanya sendiri, iya dia kalah dalam artian dia harus melepaskan apa yang dia punya sebagai satu-satu penyemangat  untuknya. 
     Perempuan itu memilih untuk mengurung diri dan menutup diri untuk mencurahkan gejolak hatinya. Dia menjadi pendiam, padahal dia adalah orang yang sangat aktif bahkan hiperaktif ketika dia bersosialisasi dengan orang baru maupun lama. Tapi katanya, dunia seperti tak bergerak dan berputar. Sepertinya ia sedang menunggu kapan dunianya kembali bergerak dan berputar.
     Belajar untuk menjadi dewasa sebelum waktunya adalah hal tersulit. Iya, menjadi lebih memahami kondisi sekitar, mengerti satu salam lain dengan mengesampingkan ego. Menjadi kuat di kalangan orang-orang lemah yang sangat terpaksa di lakukannya. Tak yakin jika semua orang akan mengetahui apa yang di rasakan perempuan itu. Itu yang ku lihat darinya. Yang ku ingat dari perkataannya adalah Mengeluh tak apa, menyerah itu tak boleh. Dia mengatakan demikian. Ku sangat  melihat semangatnya untuk bertarung dengan kehidupan. Namun tak lagi, karena yang ku tau salah satu semangat yang di dapat darinya adalah duri itu. 
     
     

Selasa, 03 September 2019

Keluarga Adalah Kebahagiaan

                                                                    Oleh
                                                          Nurani Puji Islami



        Kehidupan selalu berlaku adil, entah dari persepsi mana ku katakan demikian. Banyak hal dalam hidup yang membuat kita menjadi lebih kuat, lemah, bahkan menyerah dan ingin mundur. Tapi satu hal yang membuat hidup menjadi lebih bermakna dan lebih hidup, yaitu keluarga. Ketika semua orang menutup telinganya hanya untuk mendengarkan luapan isi hati yang sudah meledak, tetapi keluarga sedia membuka mata dan telinganya tanpa batasan waktu. 
          Masa kecil adalah masa emas untuk mendidik anak menjadi seseorang yang terdidik. Apabila masa kecil penuh dengan kehangatan dan keharmonisan  akan membuat anak menjadi lebih positif dan nyaman untuk mengenyam pendidikannya. Tawa kecil sana sini dengan kenakalan anak sewajarnya. Ayahku selalu mengatakan bahwa Anak kecil jika tidak nakal tidak akan pintar dan aktif. Anak kecil biasa ku katakan seperti lembaran kosong putih yang akan di isi oleh pena untuk mengisi lembaran-lembaran putih yang kosong itu, dan yang akan mengisi lembaran putih tersebut adalah orang-orang yang berada disekitarnya. 
          Jika kalian bertanya apakah masa kecilku penuh dengan kehangatan, kebahagiaan, dan keharmonisan tentu aku akan manjawab, iya. Masa kecilku penuh dengan warna. Aku memiliki 2 sayap yang mampu membawaku terbang kemanapun aku ingin pergi, membawaku bercengkerama dengan alam, dunia luar, dan wawasan dunia yang memang tak banyak ku ketahui. Jika kalian ingin bertanya seperti apa 2 sayap yang mampu membawaku terbang melintasi kehidupan yang asyik untuk di jelajahi, maka aku akan menjawab... 2 sayap itu adalah, Ayah dan Ibuku. 
          Kini akan ku ceritakan bagaimana aku di besarkan dan mendapatkan madrasah pertama di dalam surgaku (Rumah), ku katakan surga karena ada pribahasa yang mengatakan Rumahku adalah Sugaku. Ayahku adalah seorang abdi negara yaitu salah satu anggota TNI (Tentara Nasional Indonesia). Seperti yang kita ketahui bahwa tentara dikenal dengan kedisiplinannya, seperti itulah beliau mendidik anak-anaknya. Sedari usiaku masih 6 tahun, bahkan saat itu aku masih sekolah di TK (Taman Kanak-Kanak) Ayahku selalu membangunkan ku subuh untuk melaksanakan sholat subuh, waktu itu. Itu di ajarkan beliau supaya aku tau untuk melakukan kewajiban sebagai umat, walaupun kalian juga pasti tau bagaimana sholatnya anak kecil ketika usia 6 tahun. Usai sholat dilanjut dengan mandi dan sarapan untuk berangkat sekolah. Pada usia yang balita itu, Ayah tidak pernah menuntutku untuk membantu Ibu, namun percayalah didikan itu membuatku sadar untuk membantu ibu tanpa di suruh terlebih dahulu. 
          Perlu kalian ketahui juga bahwa beliau selalu menanamkan jiwa nasionalisme kepada anak-anaknya. sebagai contoh, Ayah tau bahwa aku suka menyanyi sejak kecil jadi Ayahku selalu membawa CD musik yang berisi lagu nasional untuk anak-anak, dari situlah aku bisa menghafal  beberapa lagu-lagu nasional. Selain itu Ayahku juga sering menceritakan beberapa sejarah di Indonesia. Contoh kecilnya, karena Ayahku dinas di Surabaya, Ayahku menceritakan sejarah mengapa Kota Surabaya di sebut kota pahlawan.
       Ayahku menceritakan heroisme masyarakat Surabaya tergambar pada pertempuran 10 November 2019. Arek-arek suroboyo adalah sebutan bagi masyarakat Surabaya yang berbekal bambu runcing untuk melawan sekutu hingga banyak masyarakat yang gugur saat pertempuran itu. Tokoh pertempuran yang sangat kokoh adalah Bung Tomo, dengan orasinya yang menggebu-gebu dan semangat yang mampu membakar api perjuangan dari arek-arek suroboyo. 5 tahun kemudian kesan bung karno terhadap peristiwa itu akhirnya memutuskan untuk membuat tugu kota pahlawan yang kemudian menetapkan tanggal 10 November adalah hari "Hari Pahlawan". Begitulah salah satu contoh sejarah yang selalu Ayah ceritakan padaku, masih banyak lagi sejarah-sejarah singkat yang tau dari pengetahuan Ayah. Banyak yang bisa ku pelajari darinya, semangat dan kerja kerasnya selalu membangkitkan semangatku untuk terus mengejar pendidikan sampai saat ini. 
          Next, sayapku yang satunya lagi adalah Ibuku. Iya, berbeda dengan Ayah yang sangat keras dan didisiplin mendidik anaknya, ibu adalah seseorang yang sangat lemah lembut. Satu ilmu yang bisa ku terapkan ketika aku melaksanakan kegiatan pengabdian di sebuat desa dari organisasi yang ku ikuti saat ini yaitu Tidak ada anak manja, anak yang di manjakan ada. Artinya, tidak semua permintaan anak bisa kita  penuhi, kita bisa memberikan permintaannya ketika sang anak mampu memberikan satu prestasi maupun mampu melakukan sesuatu yang baik, misalnya bisa menghafal perkalian 1-10. Ibuku juga banyak memberikan ilmu memasak dan pekerjaan rumah tangga, dimaklumi mungkin karena aku adalah anak perempuan. Memasak adalah hobi beliau, secara otomatis akupun menyukainya, mungkin karena aku selalu berkecipung di dunia masakan bersamanya. Semenjak SMP aku sudah bisa masak sendiri dan membantu pekerjaan beliau di rumah. Yap.. tepat sekali, aku lebih banyak bergaul dengan Ibu, hal ini dikarenakan sang Ayah yang dinas di luar kota membuat Anak, Ibu dan Ayah ini jarang bertemu. Ayahku pulang seminggu 1 kali, misalnya hari senin-jum'at beliau di kantor, selanjutnya hari sabtu dan minggu beliau bisa family time. Rutinitas itu berlaku semenjak aku masih dalam kandungan hingga aku menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri.
          Keluarga memiliki arti tersendiri dalam hidupku, kebahagiaan dan ketulusannya tidak pernah bisa digantikan dengan uang. Kami adalah keluarga yang sangat sederhana, tidak pernah berlibur ke luar kota dengan biaya yang begitu mahal, apalagi berlibur ke negeri orang, haha bermimpi rasanya. Bagi kami kebahagiaan itu sangat sederhana, begitupun dengan kebahagiaan. Kami memilih berlibur di rumah, dengan pembagian tugas rumah, sarapan bersama, kemudian di lanjut dengan karaoke keluarga atau sekedar berpiknik di depan rumah dengan bakar-bakar ikan dan sebagainya. Iya, itulah romantisme keluarga kami. Satu waktu begitu berharga bagi kami, saling mengerti dan mendukung pilihan yang terbaik dari yang baik.

Sekolah Menengah ke Atas

Lanjutan  " Sekolah Menengah Pertama" Oleh Nurani Puji Islami      Hari itu tepat hari senin, hari itu yang akan mem...