Lanjutan dari
"Keluarga Adalah Kebahagiaan"
Oleh
Nurani Puji Islami
Masa remaja adalah masa-masa dimana kita mulai bermain dengan perasaan, biasa di katakan ABG (Anak Baru Gede) masa yang mudah kebawa perasaan. Masa remaja yaitu masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Remaja awal biasanya sekitar usia 10 - 14 tahun. Masa remaja akhir 15 - 20 tahun. Pada masa remaja biasanya sangat sulit menerima masukan dari orang-orang di sekitarnya, karena pada dasarnya di masa ini tidak suka di gurui.
Sekolah menengah pertama yang biasa disingkat dengan SMP. Iya, kali ini aku akan bercerita masa SMP ku, masa remaja awalku. Usai keluar dari MINU aku diberikan 2 pilihan oleh kedua orangtua ku. Pilihan yang pertama adalah Belajar agama sekaligus sekolah di pondok pesantren, pilihan kedua adalah Sekolah di SMP Negeri. Jika di beri 2 pilihan, kalian tau apa yang ada di pikiranku dan pilihan manakah yang akan aku pilih?
Tentu saja aku memilih sekolah di SMP Negeri. Maaf , bukannya tidak ingin belajar di pondok pesantren, sekolah di MINU bagiku serasa berada di kehidupan pesantren. Bagaimana tidak? Belajar menghafal hadist yang berada di buku Al-Qur'an dan Hadist waktu itu. Menghafal ilmu Nahwu, belajar Sejarah Kebudayaan Islam dan Aswaja. Belajar Fiqih dan Aqidah, selain itu setiap hari selalu di adakan pengecekan kuku, apabila kuku terlihat kotor dan panjang, penggaris kayu panjang siap untuk hinggap di jari-jari. Setiap jam 12.00 selalu melakukan sholat dhuhur berjama'ah, pulang sekolah di lanjutkan dengan mengaji. Kegiatan itu rutin sejak kelas 3-6 MI. Jujur saja, pada saat itu yang mengarahkan ku untuk sekolah di MINU adalah orangtua ku, dan itu paksaan sejak aku lulus dari Taman Kanak-Kanak (TK). Sempat memiliki perasaan iri hati kepada teman-teman sekitar rumah, karena jujur saja jam sekolahku dengan jam sekolah teman-temanku di rumah sangat jauh berbeda. Mereka pulang sekolah jam 12.00, aku? benar saja, aku pulang sekolah waktu itu jam 15.00. Pulang sekolah dilanjut dengan sekolah agama yang biasa di katakan sekolah diniah, dan itu sampai jam 17.00, usai sekolah diniah aku belajar mengaji kepada Ayah dan Ibu, setelahnya belajar untuk persiapan sekolah esok, kalau sudah terasa capek aku di perbolehkan menonton tv dan tidur. Eh jangan salah, masa MINU dan SMP tidak mengenal dunia gadget hehe. Ilmu pengetahuan banyak ku dapatkan dari buku-buku yang ayah beli, mendengarkan cerita Ayah dan Ibu, CD Musik dan dongeng dan berita di televisi nasional waktu itu.
Akhirnya, tiba saatnya aku berada di lingkungan sekolah Negeri. Benar, tidak ada hafalan hadist, al-qur'an, mengaji, dsb. Di MINU dulu aku sering mengikuti latihan Qiro'ah, sering di ikutkan lomba juga, padahal aku merasa bahwa suaraku tidak bagus-bagus amat. Semenjak masuk di sekolah negeri, Qiro'ah ku tidak terasah. Qiro'ahku di gantikan dengan dunia musik dan menulis. Iya, aku menjadi vokalis di salah satu band yang ku bentuk sendiri waktu itu dan memiliki pelatih untuk mengasah bakat-bakat kami, kami mengikuti festival band dan di undang untuk mengisi acara-acara sekolah juga pernikahan. Aku juga memiliki kelompok menulis cerpen bersama 5 orang temanku waktu itu. Kita sering bertukar cerita setiap usai menulis, membaca dan mengoreksi tulisan satu sama lain. Aku juga suka berpuisi, kalau berpuisi sih sudah sejak TK sering di ikutkan lomba, tapi ya gitu jarang dapat juara, dapat juara paling tidak juara 3 atau 2 aja.
Satu lagi yang special di dunia SMP, "Menari" yapppp aku adalah penari waktu itu, tarian tradisional dan modern waktu itu aku sempat mengikutinya. Aku juga sering di undang untuk mengisi di acara-acara formal maupun non-formal. Bahkan aku pernah mengikuti lomba tari tingkat kabupaten waktu itu, Alhamdulillah kami mendapat juara 1 waktu itu. Aku benar-benar menikmati masa SMP, memiliki teman-teman yang cakap dan guru-guru yang sangat peduli dengan siswa-siswinya.
Ada satu lagi yang mewarnai dunia remaja awalku waktu itu. Tak perlu ku beri tahu rasa Suka terhadap lawan jenis itu seperti apa. Tentu saja itu sangat menyenangkan dan memberi semangat tersendiri untuk melakukan aktivitas waktu itu. Iya, aku mengagumi salah satu dari mereka, teman sekelasku. Pria itu pendiam, pintar, dan cerdas. Selalu menjadi yang pertama di kelas, bahkan aku tak mampu mengejar peringkat di kelasku waktu itu. Jika dia berada di posisi pertama, aku selalu menjadi di posisi yang kedua atau ketiga dibawahnya. Aku mengaguminya juga karena dia sangat manis ketika tersenyum, namun aku selalu diam saja. Aku menceritakan kepada Ibuku waktu itu, kata ibu itu adalah cinta monyet dan aku diharuskan untuk tetap fokus dengan sekolahku. Akhirnya aku mengabaikan rasa ini, sampai akhirnya.... dia juga menyukaiku.
Kami sepakat untuk menjadi teman dekat waktu itu, namun tidak bertahan lama. Kami memutuskan untuk sama-sama fokus di dunia pendidikan. Faktanya, aku tersingkirkan oleh wanita lain. Iya, dia bersama temanku, dekat sangat dekat bahkan terlihat di mataku sendiri. Jangan tanya bagaimana perasaanku waktu itu, sakit? tentu saja, itu pasti. Namun aku mencoba untuk mengabaikannya, dan tetap menjadi teman baik, karena aku sadar 3 tahun berturut-turut aku selalu sekelas dengannya, padahal kelas itu sudah di acak setiap tahun, tapi takdir selalu mempertemukan aku dengannya.
Yap, itulah kisah Sekolah Menengah Pertamaku. Semoga ada pelajaran yang bisa kalian petik dari kisah ini. Ketahuilah! sekolah di mana saja sebenarnya sama. Semua tergantung dari niat dan pilihan. Jangan mundur sebelum berperang, karena itu tidak pernah menemukan siapa kamu sebenarnya. Sekolah di MINU mengajarkan aku untuk berhati-hati ketika terjun di dunia SMP ini dunia yang mudah di masuki oleh hal-hal buruk dan pergaulan bebas. Jangan salah juga, banyak pergaulan bebas di sekitarku, namun kembali kepada diri masing-masing, menjadi orang berpendidikan belum tentu mereka sudah benar-benar terdidik, karena didikan itu lahir dari upaya Ayah dan Bunda kepada anak-anaknya.
Mantapkan hati terhadap pilihan, Berusaha dan jangan lupa berdo'a :)