Lanjutan "Sekolah Menengah Pertama"
Oleh
Nurani Puji Islami
Hari itu tepat hari senin, hari itu yang akan memutuskan bahwa aku akan segera menjadi siswa yang menggunakan pakaian putih abu-abu. Jantungku sangat berdetak kencang, seandainya jantung ini aku suruh berhenti untuk berdetak, ahh.. matilah sudah aku ini. Hari itu aku mengunjungi sekolah itu, sendirian. Detik-detik pengumuman akan segera terpampang, dan aku pun masih menunggu dengan irama jantung yang entah bagaimana, tak karuan rasanya. Namun saat itu, diriku tetap memiliki keyakinan penuh dengan harapan dan impianku untuk belajar di salah satu sekolah favorit, katanya. Tak henti-hentinya aku mengucapkan doa, agar hari itu aku bisa memberikan kabar gembira kepada Ayah dan Ibuku yang juga sedang menunggu kabar dariku. Proses pendaftaran sampai pengumuman semua ku urusi sendiri, ya sejak SMP aku terbiasa sendiri dalam mengurusi pendidikan. Aku memiliki banyak mimpi dalam kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Aku memiliki beberapa target, bagiku hidup itu selalu bersaing, pasti ada yang kalah dan menang. Bagiku, itu sudah biasa.
Kembali lagi pada sekolah menengah ke atas, tepat pukul 09:00 WIB pengumuman sudah terpasang. Seingatku, jika tidak salah ada 2 titik pemberitahuan saat itu. Sayangnya saat itu tubuhku begitu pendek hingga aku tak menemukan namaku disana. Aku kembali menunggu, sampai aku terbiasa menunggu. Aku melihat pada saat itu kebanyakan orangtua siswa yang melihat pengumuman anak-anaknya, dan aku? hanya seorang diri. Menunggu dan tetap menunggu, sampai akhirnya sekitar jam 10:00 WIB aku bisa dengan tenang mencari namaku. Dannnnnnnnn....... Yap, Aku lupa namaku berada di urutan keberapa, yang pasti saat itu aku menjadi seorang siswa di sekolah yang aku harapkan.
Tak perlu ditanya bagaimana rasanya menjadi aku saat itu, bahagia? tentu. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah saat itu. Satu yang membuatku bingung saat itu, aku sendirian dan tentu saja aku tak punya handphone saat itu. Aku bingung, bagaimana caranya menghubungi Ayahku saat itu. Karena saat aku menginjak Sekolah menengah pertama hanya ada 2 handphone. 1 untuk Ayah dan 1 untuk Ibu. Aku kembali diam, kemudian ada salah satu siswa baru dari sekolah yang sama. Akhirnya aku meminjam handphonenya untuk menghubungi Orangtuaku. Dan.... yap, mereka bahagia dan mengucap syukur.
Ayah dan Ibuku saat itu segera datang ke sekolah baruku. Kami menunggu pemberitahuan selanjutnya, pengumuman MPLS (Masa pengenalan lingkungan sekolah), dan registrasi selanjutnya. Biasalah, tentang uang seragam, buku, dan SPP, katanya.
Tepat saat itu, sendirian lagi tentunya.. aku jalan-jalan memutari sekolah, melihat taman, gazebo, perpustakaan, kelas-kelas, kantin, tempat olahraga, semuanya. Sampai akhirnya pada saat itu aku melihat seorang perempuan duduk manis di samping kelasku. Aku menemuinya, dan bertanya namanya. Siapa kira, saat itu aku memiliki teman baru.
Oh iya, aku masuk di kelas IPA sesuai dengan keinginanku. Dikelas itu aku memilih bangku bagian depan, dan ternyata teman yang aku termui saat itu ternyata juga satu kelas denganku. Ternyata dia bukan dari daerah kotaku, dia dari kota sebelah. Satu hal yang aku pelajari dari perempuan itu, dia mengejar ilmu sejauh itu, pulang pergi antar kota hanya untuk belajar. Ya..... walaupun banyak sekolah di daerahnya tetapi dia memilih sekolahku saat itu. Dia pernah bilang kepadaku, dia tidak ingin bersekolah di daerahnya, karena dia ingin memiliki pengalaman yang sangat berharga yang bisa dia ceritakan kepada keluarganya.
Kita menjadi dekat satu sama lain, setiap saat kita belajar bersama, bertukar pendapat sampai debat, sampai akhirnya kita membentuk kelompok belajar untuk sharing dengan teman-teman yang lainnya. Kelas 10 alias kelas 1 SMA, sejarah baru yang bakalan aku ceritakan di kisah selanjutnya...
Di tunggu ya ;) Penulis hanya bisa bercerita ketika waktu senggang, hehe.
Terima kasih telah membaca. Suka tidak suka, itu pilihan.