Senin, 15 April 2019

Cinta Kini Berpihak

                                                                              Oleh 
                                                                    Nurani Puji Islami
                                                                        @bisiknurani




      Sejenak berhenti memaknai suka, kini memaknai cinta. Berhenti untuk melangkah malah semakin jauh untuk melangkah. Berniat untuk mengakhiri semakin dalam untuk mengenali. Apakah sejatinya takdir  semacam ini. Berhenti untuk menjadikan harapan sebagai sarapan sekarang setiap saat, detik, waktu menjadi sarapan bagi sebuah lubuk hati terdalam. Ada apa dengan bisikan hati yang berkata untuk menjauhi namun faktanya jauh di atas ekspektasi. Kenyataan baik yang menjadi sebuah keinginan, namun terlalu siap dalam menerima risiko terburuk yang akan terjadi. Sampai kapan kiranya akan berlalu seperti angin, hati tak semudah membolak-balikkan sebelah tangan. Hanya saja berusaha dalam menghargai dan menerima kenyataan yang akan terjadi berikutnya.
     Mengerti sebuah rasa yang tercipta bukan untuk rasaku, atau rasaku yang hanya saja kau diam tak pernah berkata apapun. Beginikah jalan kisah yang kau rajut? Seperti halnya menjadi sebuah duri yang tertanam. Sejenak berhenti lalu lanjut untuk menapaki kisah yang kau ciptakan sendiri. Diamku hanya akan membuatmu datang kembali hingga sayatan luka yang dulu ada kini telah lenyap dan tak lagi sekarat. Apa kabar luka yang telah kau siram dengan butir-butir mutiara hitam hingga jiwa dan raga tak lagi berhenti. Apakah seperti ini rasa yang kembali berbunga yang kau pupuk dengan benih-benih harapan cinta.
   Aku bak tanaman subur yang baru saja hidup karena kelayuan yang begitu lama. Layu karena harapan lenyap, dan bangun karena aliran air yang menghidupi. Seperti memiliki kehidupan baru yang baru saja tumbuh. Iya tanaman itu kini kembali hidup, subur, dan hijau wananya. Hebat sekali, dalam sekejap saja sudah mempu membangunkan hati yang sudah lama tertidur.
   Satu yang ku pikirka dalam hidup, apakah hati ini siap kembali jika harus tertidur kembali. Bagaimana jadinya jika harapan menjadi sarapan kembali. Bagaimana jadinya jika luka yang tidur akan hidup kembali. Bagaimana jadinya jika tanaman itu akan layu kembali. Bagaimana jadinya jika sudah tak ada air untuk menghidupi kehidupan yang baru ini. Dan bagaimana jadinya jika kau kembali meninggalkan luka yang membuatku terpuruk hingga terjatuh dalam lubang yang sedalam-dalamnya, hingga kakiku enggan untuk menapaki jalan itu lagi. Inikah aliran yang kau buat, terlihat sangat elegan dan menarik, hingga aku tertarik.
    Menjadi siapa untuk berpura-pura tegar dan kuat, yang sejatinya adalah remuk hingga tulang rusuk. Menjadi siapa untuk kembali tertawa dengan suasana hati yang tak lagi mendukung. Menjadi siapa hingga aku mampu dalam berpura-pura dalam wajah dan hati yang sekarat ini.
     Benar, tak perlu menjadi siapapun untuk kuat dan tegar dalam hati yang sekarat. Tentu pilihan memiliki risiko terbesar, akan ada air kembali untuk menghidupi tanaman yang baru saja hidup jika aliran air yang dibuatnya telah habis. Akan banyak akan lagi yang akan di miliki oleh hati yang berpura-pura tertawa ini. Sejatinya cinta adalah milik yang Pemilik Cinta, dan yang serba Maha akan selalu memberikan yang terbaik bagi mereka yang selalu saja tertawa dengan hati yang selalu ikhlas menerima. Tak perlu terlalu memahami harapan dan sarapan, harapan yang baik akan selalu menjadi takdir yang baik bagi hamba yang selalu siap menerima.
   
       

Kamis, 11 April 2019

Apa kabar kaum millennial ?


Oleh
Nurani Puji Islami
@bisiknurani


Salah satu fenomena penting proses globalisasi telah melahirkan generasi gadget, istilah yang digunakan untuk menandai munculnya generasi millennial. Millennials atau kadang juga disebut dengan generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980- 2000an. Maka ini berarti millenials adalah generasi muda yang berumur 17- 37 pada tahun ini. Millennials sendiri dianggap spesial karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi. Millennial pada hari ini sudah tidak asing lagi untuk diperbincangkah, sudah tidak hangat lagi untuk di kaji karena Negara kita saat ini telah memasuki revolusi industri 4.0 yang erat kaitannya dengan kaum millennial. Millennial sendiri sudah tidak pula dengan dunia teknologi. Rata-rata kaum millennial Indonesia telah mengenal dan menggunakan teknologi itu sendiri. Gadget sebenarnya lebih pas diartikan dengan peralatan, sehingga generasi gadget dimaksudkan dengan generasi yang dalam kehidupannya selalu bersinggungan dengan yang namanya peralatan yang mengandung unsur teknologi informasi. Jadi seolah-olah berbagai peralatan tersebut telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Seolah olah berbagai alat high-technology telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Namun, faktanya pada hari ini kaum millennial jika dibandingan dengan kaum X sebelum gen Y, kaum millennial banyak yang buta akan kehidupan sosial, walaupun secara ilmu pengetahuan mereka lebih maju dari generasi sebelumnya. Kebanyakan di antara mereka menyalahgunakan wawasan yang sudah mereka miliki, secara tipologi mereka cenderung menjadi manusia yang individual yang artinya lebih mementingkan kehidupan pribadi dibandingan kehidupan sekitar yang memang membutuhkan uluran tangannya untuk saling membantu. Ada apa dengan kaum kaum seperti ini ? mahasiswa saja yang katanya merupakan agen perubahan dan agen control kini sudah cacat rasanya untuk menerapkan hal tersebut, mereka cenderung asik dengan dunia yang mereka suka terutama dengan gadgetnya. Mirisnya lagi, hal itu kini merambat kepada anak usia dini, dewasa sebelum waktunya.  Menurut saya, adanya perkembangan teknologi hari ini sangat baik untuk kemajuan Negara yang sedang berkembang ini, namun sayangnya perkembangan teknologi ini banyak yang menyalahgunakan. Peran orangtua untuk menyikapi ini sangatlah penting. Solusi terbaik untuk masalah seperti ini adalah adanya sosialisasi terkait revolusi industri yang akan menghadapi bonus demografi. Hal ini sangatlah penting untuk di sajikan dan di beritakan supaya kaum millennial pada hari ini tidak tidur melainkan berperan.


Api Kemiskinan

Oleh

Nurani Puji Islami
IG @bisiknurani


Membanting tulang hanya untuk sesuap nasi

Strata rendah membuatnya tak lemah

Berjuang tanpa harus meminta

Etos kerja yang berlaku bagi mereka

                Kantuk dan lelah menjadi hal yang biasa

                Hal yang tak menjadikannya menyerah dan putus aja.

                Terkuat, yang hanya mengeluh pada-Nya

                Rezeki tak pernah kemana

                Lakukan dengan suka cita

                Tuhan yang maha semesta segera memberinya bahagia

               sungguh tuntutan untuk memenuhi kebutuhan




Cinta itu?

Oleh

Nurani Puji Islami
IG @bisiknurani


Kata orang, cinta tidak dapat di kalkulasikan, sangat sulit untuk di ungkapkan dan hanya bisa dirasakan. Mereka berkata, cinta mampu membuat orang yang bisa melihat menjadi buta, yang mendengar menjadi tulis, yang perasa menjadi mati rasa. Menjelaskan arti sebuah cinta, menurutku itu adalah hal tersulit. Perasaan yang tiba-tiba hadir dan siap terluka dalam kondisi apapun. Anugerah katanya jika merasakannya. Lalu aku sendiri? Aku tidak tau ini cinta apa bukan. Jika boleh bertanya, apakah cinta bisa hadir hanya dengan sebelah tangan saja? Cinta itu bisa membahagiakan, tapi yang aku rasakan adalah kesedihan, apa iya cinta seperti ini? Ini cinta? 
Terkadang ingin tertawa saja memaknai cinta. Menyakitkan rasanya tak seperti yang orang katakan. Jika terlihat buta, iya ku rasa begitu. Jika terlihat tulis, pun begitu. Apa iya seperti ini rasanya? diam-diam mencintai ternyata lebih indah dan terkadang menyakitkan pula,.

Minggu, 07 April 2019

Kecewa adalah milikku



Oleh

Nurani Puji Islami
IG @bisiknurani


Mulut tak bicara,

Ketika diam menjadi tanda amarah

Bak petir dengan hujan badai

Seperti itu hati ini telah hancur

Berkeping-keping tak berbentuk

Yang meninggalkan luka tanpa ramuan

Yang mematahkan harapan, doa, dan mimpi bersama

Terus saja kau tipu dayaku

Hingga aku luluh kepadamu

Namun kini sudah tidak lagi

Ku benar lelah, benar-benar lelah

Kemudian berhenti untuk menatapmu…

Cinta, kau lelaki



Oleh

Nurani Puji Islami

IG @bisiknurani




Benih yang tak ku siram

Menumbuhkan hasrat ingin kenal

Tubuh yang seolah mati

Saat paras yang begitu indah untuk ditatap

Kesempurnaan tanpa kecacatan

Keindahan penuh kehangatan

Kebahagiaan penuh kedamaian

Dan senyuman penuh keikhlasan

Itulah dikau!

Begitu indah, begitu cinta rasa dan jiwa

Ingin ku gapai, namun tubuh serasa lumpuh

Entah mengapa dengan jantung dan hati ini

Menyukai namun berhenti tuk menghampiri

Oh cinta!

Seperti inikah cinta

Cinta dalam hati yang ikhlas tanpa meminta

Cinta tanpa tuntutan dalam sempurna
Cinta, dikau lelaki itu.


Kampus dan Kartu Kuning



Oleh
Nurani Puji Islami (@bisiknurani)

“Mahasiswa? Kata apa yang muncul ketika ada yang mengatakan mahasiswa?” Tanya dalam benakku. Mahasiswa yang terdiri dari gabungan 2 kata, maha dan siswa. Maha yang berarti besar dan Siswa yang berarti pelajar, atau seseorang yang sedang belajar di suatu instansi. Mahasiswa dan tanggung jawab social dengan tri dharma perguruan tinggi, pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
Kampus yang menjadi media untuk menggalih sedalam-dalamnya ilmu. Kampus yang menjadi sarana utama mahasiswa untuk mengembangkan kemandirian dan karakter. Dan kampus pula yang menuntut mahasiswa untuk menjadi pribadi terpelajar. Kampus adalah benda mati yang di hidupkan oleh beberapa oknum yang katanya telah pandai dalam mengatur segala urusan dan birokrasi kampus.
Jika oknum yang terdapat di dalam kampus pandai dan benar adanya, lantas mengapa sampai saat ini masih ada yang menjadikan kampus sebagai masalahnya? Ada apa dengan pendidikan yang tidak merata dan berlaku adil. Adil bukan berarti sama rata, adil adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya. Tuntutan kampus yang mendoktrin mahasiswa untuk menjadi seseorang yang terpelajar, pun setuju dengan tuntutan itu. Namun apakah oknum tersebut mampu memahami keadaan mahasiswa? Tuntutan tanpa dukungan yang menunjang keinginan.Uang Kuliah Tunggal yang biasa di sebut dengan biaya SPP semakin mencekam, seakan akan membunuh harapan bukan dengan kekerasan. Bagaimana penempatan dan keputusan yang di ambil sehingga tidak sesuai dengan harapan. Pada realitanya, pengambilan keputusan yang terkait dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sangat jauh dengan data yang telah di berikan. Pukulan UKT tersebut yang seolah mematahkan harapan untuk mengubah kehidupan menjadi jauh lebih baik. Adakah penjelasan terkait pembunuhan tanpa kekerasan ini? Ya, mereka hanya diam dan selalu mengubah topic pembicaran. Bisu! Tuli! Dan Buta! Sejatinya mereka sempurna dalam aspek fisik, dan cacat dalam pikaran dan fungsi dari fisik tersebut. Ada apa dengan birokrasi kampus saat ini? Jika seseorang ingin mengubah hidup, namun pendidikan yang masih menjadi permasalahan terbesar dalam Negara ini. Beasiswa yang tidak sesuai dengan penempatannya. Permainan oknum dalam yang kian indah untuk di permainkan.  Jikapun tulisan ini sampai kepada pejabat kotor yang menduduki singgasana emas itu, pun sangat bersyukur dengan hal itu.

Mahasiswi Hedonis semakin Eksotis



Oleh
Nurani Puji Islami
IG @bisiknurani


Dunia perguruan tinggi sudah tak asing lagi diperbincangkan. Tipologi mahasiswa yang berbeda-beda tetap memberikan warna tersendiri bagi setiap kelompok maupun invidual. Di dalam kampus perempuan terkenal  dengan anggun dan menawan. Sayangnya di era-milenial saat ini menimbulkan tipologi yang jauh di batas normal bahkan bisa menjadi  batas kritis. Kehidupan yang disuguhkan dengan kenikmatan dan kemudahan dalam akses apapun membuat kalangan mahasiswa terjun kedalam dunia hedon, khususnya teruntuk mahasiswi. Bagi mahasiswi, agent of change, agent of control, dan iron stock sudah tak berlaku. Melihat secercah harapan mahasiswi akan kembali mengambil perannya sebagai agent of change , dan sebagainya itu di tengah-tengah harapan mahasiswi saat ini. Mayoritas dari mereka tunduk pada kenikmatan sementara yang memanjakan syahwat, mengabaikan dan melupakan kerusakan disekitar karena mabuk ambisi,, tugas, dan IPK. Tidak dapat di pungkiri jika apatis dan hedonis mahasiswi menjadi keluhan bagi para aktivis mahasiswa yang terasing keberadaannya dalam dekade terakhir ini. Perkembangan zaman di era globalisasi saat ini mengakibatkan gaya hidup hedonism di kalangan mahasiswa. Globalisasi menjadi pengaruh perilaku gaya hidup modern dimana pemenuhan kebutuhan mahasiswa  tampak condong ke hedonisme. Dan hedonism di kalangan kampus semakin eksotis. Gaya hidup tersebut menjadikan perubahan social termasuk apatis. Kepribadian dan setiap perempuan memiliki gaya hidup yang berbeda. Hedonisme pun memiliki faktor penyebab, faktor orang tua menjadi salah satu penunjang mahasiswi dalam melakukan kesehariannya dapat terkontrol. Terkadang orang tua hanya sekedar memberi kebutuhan sehari-hari tanpa memikirkan kebutuhan rohaninya. Bacaan-bacaan yang berbau intertaiment berhasil di kuasai tanpa berfikir bacaan hedonism. Mahasiswi produktif sudah berhasil dikalahkan melalui perilaku konsumerisme. Perkembangan kehidupan yang mulai mengarah kemajuan atau cenderung modern semakin mudah di jadikan alat untuk hedonism yaitu dengan bermunculan berbagai tempat hedon dengan berpola tinggi. Perlu diketahui dan dapat terlihat apa yang akan terjadi jika virus ini dibiarkan terus menerus. Maka dari itu dapat di antisipasi pengaruh hedonism bagi mahasiswi dengan mengadakan sharing memberi keterbukaan antara dampak positif maupun negatifnya untuk kehidupan. Tahapan hidup yang dilakukan dalam keseharian perlu di pertimbangkan, tidak selamanya apa yang kita dapat hari itu bisa tercapai juga saat nanti. Biasanya manusia cenderung lebih membeli barang karena keinginan, bukan karena suatu kebutuhan. Hal seperti itu bisa dikatakan sebagai perilaku hedonism yang tidak hanya membeli kebutuhan utama saja. Kurangnya pondasi pada setiap individu sehingga wajar saja jika hedonism lebih menojol akhir-akhir ini. Jika semua virus hedonism tetap di jalankan maka seseorang tidak selamanya merasakan kepuasan, tetapi tertekan dengan jalan hidup saat itu yang ia pilih. Sebelum menjadi pencandu hedonism alangkah baiknya melihat lebih dalam lagi apa tujuan yang didapat dari itu semua. Kebahagiaan setiap individu memang beda, tetapi untuk seorang mahasiswa bukan waktunya untuk bersenang-senang mementingkan keinginan diri sendiri, tetapi juga perlu survive menumbuhkan rasa yang peduli pada sesame. Mahasiswa seharusnya mampu melakukan penolakan terhadap hedonism dengan dimulai dari individu menjadikan langkah-langkah pertama yang bagus. Semya berawal dari setiap individu, bagaimana bisa meyakinkan orang lain atau masyarakat jika menjadi pribadi sendiri ada rasa dalam hedonism. Menjadi mahasiswa harus memiliki tujuan dalam setiap pilihan, dan menjadi mahasiswi yang hedonism bukanlah suatu pilihan melainkan adalah jebakan.

Sekolah Menengah ke Atas

Lanjutan  " Sekolah Menengah Pertama" Oleh Nurani Puji Islami      Hari itu tepat hari senin, hari itu yang akan mem...