Oleh
Nurani Puji Islami
@bisiknurani
Sejenak berhenti memaknai suka, kini memaknai cinta. Berhenti untuk melangkah malah semakin jauh untuk melangkah. Berniat untuk mengakhiri semakin dalam untuk mengenali. Apakah sejatinya takdir semacam ini. Berhenti untuk menjadikan harapan sebagai sarapan sekarang setiap saat, detik, waktu menjadi sarapan bagi sebuah lubuk hati terdalam. Ada apa dengan bisikan hati yang berkata untuk menjauhi namun faktanya jauh di atas ekspektasi. Kenyataan baik yang menjadi sebuah keinginan, namun terlalu siap dalam menerima risiko terburuk yang akan terjadi. Sampai kapan kiranya akan berlalu seperti angin, hati tak semudah membolak-balikkan sebelah tangan. Hanya saja berusaha dalam menghargai dan menerima kenyataan yang akan terjadi berikutnya.
Mengerti sebuah rasa yang tercipta bukan untuk rasaku, atau rasaku yang hanya saja kau diam tak pernah berkata apapun. Beginikah jalan kisah yang kau rajut? Seperti halnya menjadi sebuah duri yang tertanam. Sejenak berhenti lalu lanjut untuk menapaki kisah yang kau ciptakan sendiri. Diamku hanya akan membuatmu datang kembali hingga sayatan luka yang dulu ada kini telah lenyap dan tak lagi sekarat. Apa kabar luka yang telah kau siram dengan butir-butir mutiara hitam hingga jiwa dan raga tak lagi berhenti. Apakah seperti ini rasa yang kembali berbunga yang kau pupuk dengan benih-benih harapan cinta.
Aku bak tanaman subur yang baru saja hidup karena kelayuan yang begitu lama. Layu karena harapan lenyap, dan bangun karena aliran air yang menghidupi. Seperti memiliki kehidupan baru yang baru saja tumbuh. Iya tanaman itu kini kembali hidup, subur, dan hijau wananya. Hebat sekali, dalam sekejap saja sudah mempu membangunkan hati yang sudah lama tertidur.
Satu yang ku pikirka dalam hidup, apakah hati ini siap kembali jika harus tertidur kembali. Bagaimana jadinya jika harapan menjadi sarapan kembali. Bagaimana jadinya jika luka yang tidur akan hidup kembali. Bagaimana jadinya jika tanaman itu akan layu kembali. Bagaimana jadinya jika sudah tak ada air untuk menghidupi kehidupan yang baru ini. Dan bagaimana jadinya jika kau kembali meninggalkan luka yang membuatku terpuruk hingga terjatuh dalam lubang yang sedalam-dalamnya, hingga kakiku enggan untuk menapaki jalan itu lagi. Inikah aliran yang kau buat, terlihat sangat elegan dan menarik, hingga aku tertarik.
Menjadi siapa untuk berpura-pura tegar dan kuat, yang sejatinya adalah remuk hingga tulang rusuk. Menjadi siapa untuk kembali tertawa dengan suasana hati yang tak lagi mendukung. Menjadi siapa hingga aku mampu dalam berpura-pura dalam wajah dan hati yang sekarat ini.
Benar, tak perlu menjadi siapapun untuk kuat dan tegar dalam hati yang sekarat. Tentu pilihan memiliki risiko terbesar, akan ada air kembali untuk menghidupi tanaman yang baru saja hidup jika aliran air yang dibuatnya telah habis. Akan banyak akan lagi yang akan di miliki oleh hati yang berpura-pura tertawa ini. Sejatinya cinta adalah milik yang Pemilik Cinta, dan yang serba Maha akan selalu memberikan yang terbaik bagi mereka yang selalu saja tertawa dengan hati yang selalu ikhlas menerima. Tak perlu terlalu memahami harapan dan sarapan, harapan yang baik akan selalu menjadi takdir yang baik bagi hamba yang selalu siap menerima.
Aku bak tanaman subur yang baru saja hidup karena kelayuan yang begitu lama. Layu karena harapan lenyap, dan bangun karena aliran air yang menghidupi. Seperti memiliki kehidupan baru yang baru saja tumbuh. Iya tanaman itu kini kembali hidup, subur, dan hijau wananya. Hebat sekali, dalam sekejap saja sudah mempu membangunkan hati yang sudah lama tertidur.
Satu yang ku pikirka dalam hidup, apakah hati ini siap kembali jika harus tertidur kembali. Bagaimana jadinya jika harapan menjadi sarapan kembali. Bagaimana jadinya jika luka yang tidur akan hidup kembali. Bagaimana jadinya jika tanaman itu akan layu kembali. Bagaimana jadinya jika sudah tak ada air untuk menghidupi kehidupan yang baru ini. Dan bagaimana jadinya jika kau kembali meninggalkan luka yang membuatku terpuruk hingga terjatuh dalam lubang yang sedalam-dalamnya, hingga kakiku enggan untuk menapaki jalan itu lagi. Inikah aliran yang kau buat, terlihat sangat elegan dan menarik, hingga aku tertarik.
Menjadi siapa untuk berpura-pura tegar dan kuat, yang sejatinya adalah remuk hingga tulang rusuk. Menjadi siapa untuk kembali tertawa dengan suasana hati yang tak lagi mendukung. Menjadi siapa hingga aku mampu dalam berpura-pura dalam wajah dan hati yang sekarat ini.
Benar, tak perlu menjadi siapapun untuk kuat dan tegar dalam hati yang sekarat. Tentu pilihan memiliki risiko terbesar, akan ada air kembali untuk menghidupi tanaman yang baru saja hidup jika aliran air yang dibuatnya telah habis. Akan banyak akan lagi yang akan di miliki oleh hati yang berpura-pura tertawa ini. Sejatinya cinta adalah milik yang Pemilik Cinta, dan yang serba Maha akan selalu memberikan yang terbaik bagi mereka yang selalu saja tertawa dengan hati yang selalu ikhlas menerima. Tak perlu terlalu memahami harapan dan sarapan, harapan yang baik akan selalu menjadi takdir yang baik bagi hamba yang selalu siap menerima.